Lihat saja duel ini, Yordania menghadapi Argentina, yang mereka pikirkan bukan bagaimana cara menang, melainkan bagaimana caranya agar tidak dibantai. Jadi, sejak detik pertama, Yordania pasti akan memperlambat tempo. Mereka akan mengurangi waktu serangan, menekan jumlah possesion, dan sebisa mungkin membuat pertandingan jadi jelek serta terputus-putus. Kenapa? Karena mereka tahu, kalau meladeni Argentina bermain cepat dan saling serang, itu sama saja bunuh diri. Semangat bertarung Yordania terletak pada bertahan mati-matian, bukan menyerang.
Kalau Argentina? Kali ini tujuan mereka adalah mematangkan tim, menghindari cedera, dan mencari ritme pertandingan. Mereka tidak perlu mengejar selisih poin besar, tidak perlu menang dengan skor mencolok untuk membuktikan sesuatu. Begitu unggul sekitar 15 poin, mereka biasanya mulai mengontrol permainan, memasukkan pemain cadangan, dan memberi waktu istirahat kepada para pemain inti. Semangat bertarung Argentina adalah menang dengan efisien, menjaga clean sheet lebih baik, dan menghemat tenaga lebih bagus lagi.
Sekarang lihat data. Dalam pertandingan-pertandingan terakhir Yordania, rata-rata poin mereka bisa Anda cek sendiri, sangat buruk, terutama saat menghadapi tim kuat, angka mereka sering ditekan ke 70 bahkan 60-an. Efisiensi serangan setengah lapangan mereka sangat rendah, tidak punya opsi pencetak poin kedua yang stabil, dan tembakan dari luar garis tiga poin juga tidak konsisten. Di sisi pertahanan, meski kemampuan individu biasa saja, mereka akan mengandalkan zona defense untuk mengulur waktu, memaksa lawan membuang tempo dalam distribusi bola, dan semakin menguras jumlah possessions.
Argentina? Dari sisi data, pertahanan mereka terlihat lebih stabil daripada serangan. Saat memainkan laga dengan jarak kualitas yang jelas seperti ini, fokus bertahan mereka justru lebih tinggi dibanding saat menghadapi tim kuat, karena mereka tidak ingin dipermalukan oleh serangan balik tim yang lebih lemah. Dalam beberapa laga uji coba atau fase grup turnamen terakhir, saat menghadapi tim Asia atau Afrika, total poin mereka sering berakhir kecil. Serangan mereka disiplin, tidak asal menembak, dan biasanya menunggu sampai delapan detik terakhir baru melepaskan tembakan.
Kalau dua garis ini digabungkan: satu ingin memperlambat, satu ingin mengontrol permainan; satu sulit menyerang, satu tidak perlu memaksakan serangan. Laga seperti ini secara alami adalah lahan subur untuk under. Batas 3 poin dalam tempo seperti ini benar-benar sulit ditembus. Saya melihatnya sebagai pertandingan defensif dengan tempo lambat yang timpang sebelah, bukan laga saling serang.